Sabtu, 15 Februari 2014

Peran Pendidikan Islam dalam Era Globalisasi

       Pendidikan bagi bangsa adalah suatu proses dan juga sistem yang mempunyai tujuan ideal yang diyakini, begitu juga dengan pendidikan bangsa kita, sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 2 tahun 1989: Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian dan mandiri,serta bertanggung jawab pada kemsyarakatan dan kebangsaan.


      Tujuan pendidikan tersebut juga merupakan tujuan pendidikan Islam, dikarenakan Pendidikan Islam adalah suatu sub sistem dari pendidikan nasional. Dari tujuan diatas terlihat jelas bahwa pendidikan sangat mencita-citakan terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya ataupun ‘insan kamil’, yang siap menghadapi segala kemajuan dari segala segi dalam kehidupan ini (baca: globalisasi), tanpa harus kehilangan makna dan tujuan hidup sesungguhnya, yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. Globalisasi merupakan suatu rangkaian proses perubahan sosial, ekonomi, dan budaya, dalam pola kehidupan manusia.

Pesatnya arus perubahan dari segala segi kehidupan telah melahirkan dampak positif – negatif bagi manusia itu sendiri. Kita rasakan ada suatu dinamika kehidupan yang dinamis, mudah, bebas, namun secara negatif dirasakan juga semakin terpuruknya kita; kemorosotan moral, kekerasan, kesadisan, dan kejahatan lainnya yang sering tidak manusiawi, diperparah lagi munculnya ‘budaya’ Machehavilian yaitu menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu juga dikalangan generasi seringkali fenomena minuman keras, pemakaian obat-obat terlarang, pergaulan bebas, semakin mempertegas arah baru kecendrungan sebagian generasi muda.

Melihat fenomena yang ada seiring dengan modernisasi maka tidak ada pilihan lain kecuali menempatkan pendidikan sebagai wahana pengolahan sumber daya manusia, tidak terkecuali pendidikan Islam. Menurut Prof. Mohd. Athiya El-Abrasyi ada lima hal kenapa pendidikan Islam sangat sentral dalam menunjang perkembangan kehidupan.

    Untuk pembentukan akhlak/ moral yang mulia. Disini ditekankan bahwa setiap pelajaran adalah untuk pembentukan akhlak/ moral, setiap guru haruslah memelihara akhlak/moralnya, dan semua komponen yang barada dalam sistem pendidikan haruslah menempatkan akhlak/moral dalam setiap langkahnya.

  • Persiapan kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah SAW: Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.
  • Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
  • Menumbuhkan roh ilmiah, keinginan mengetahui, dan mengkaji/ megamalkan ilmu yang bermanfaat.
  • Berperan menciptakan generasi siap pakai (profesional).

Dari rangkaian sejarah juga menyatakan bahwa ayat pertama yang turun pada Nabi Muhammad SAW, selaku nabi akhir zaman adalah ‘IQRA’ artinya ‘bacalah’. Keseluruhan Al Quran dan hadist Rasulullah yang merupakan amalan, ucapan, persetujuannya merupakan sumber-sumber pendidikan Islam dari segi arah, kandungan, dan kaedah.

Maka amalan Nabi SAW sendiri menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menjayakan dan menyebarkan ajaran Islam dengan lancar dan berkesan karena beliau sendiri adalah guru dalam artian yang sesungguhnya, guru pada umat manusia dan pengikut-pengikutnya.

Sesungguhnya pendidikan Islam memiliki transmisi yang nyata dalam upaya berperan mengarahkan masyarakat secara berimbang, baik segi intelektual imajinasi, keilmuan, kultural, serta kepribadian. Terbentuknya kepribadian yang baik merupakan cita–cita dan dambaan setiap negara, karena dengan demikian akan terarahnya hidup untuk sebuah pengabdian, dalam mengerakkan diri sendiri, masyarakat untuk berbuat yang bermakna.

Upaya pembentukan kepribadian dalam pendidikan Islam dapat dilalui dalam beberapa aspek.
  • Pertama, taraf pembiasaan. Taraf ini lebih tepatnya pada masa anak-anak, sebab sejak dini adalah masa yang peka bagi pembentukan kebiasaan. Menurut Zakiah Drajat: Hendaklah setiap pendidik menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak sangat perlu pembiasaan dan latihan yang cocok/sesuai perkembangan jiwanya.
  • Kedua, taraf pembentukan pengertian, minat, dan sikap. Dalam masa ini harus diberi pengertian yang tegas mana yang baik – buruk, terpuji – tercela, jujur – biadab, hak – bathil, dalam aktifitas keseharian.
  • Ketiga, pembentukan kerohanian yang luhur. Pembentukan ini merupakan pembentukan diri sendiri yang berlangsung pada masa dewasa. Taraf ini sesungguhnya sudah bisa membedakan secara jelas dan nyata mana baik dan benar, karena sudah mengetahui dampak dari keduanya.
Dari tinjauan diatas maka pendidikan Islam haruslah mampu berkembang dan meainkan peran terdepan, dan tetap membuka mata terhadap globalisasi dewasa ini, yang selalu menawarkan berbagai pilihan dan perubahan, dan juga dengan segala ragam perkembangan IPTEK.

Watak dari sains dan teknologi tidak pernah statis, namun terus mengalami perubahan sebagai hasil dari riset/penelitian dan pengembangan. Maka peranan dari ilmu pengetahuan dan teknologi akan mengambil posisi yang secara langsung mempengaruhi bukan saja gaya hidup sehari-hari tetapi juga nilai seni moral dan agama.

Pendidikan Islam baik itu yang formal, non-formal, maupun informal haruslah terarah agar lahirnya generasi unggul, yaitu generasi yang intelektual dengan pribadi bermoral, sehingga dengan demikian pendidikan Islam mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat madani. 

Dalam rangka mewujudkan hal tersebut perlu beberapa upaya, antara lain:
  1. Pertama, memantapkan pendidikan Islam baik di rumah,di sekolah, maupun di masyarakat.
  2. Kedua, mengintegrasi antara pendidikan dan pengajaran. Sesungguhnya pada setiap pengajaran terdapat nilai edukatif, misalkan pengajaran matematika mendidik manusia agar berpikir sistematis dan logis, objektif, jujur, ulet, dan tekun. Begitu juga fisikamendidik manusia agar syukur nikmat yang terdapat pada penciptaan-Nya.
  3. Ketiga, adanya tanggung jawab bersama.Pendidikan akhlak bukan hanya tanggung jawab guru agama saja tapi tanggung jawab semua pendidik, orang tua, dan semua elemen masyarakat,tanpa terkecuali pengambil kebijakan di pemerintahan.
  4. Keempat, pendidikan harus menggunakan semua kesempatan, berbagai sarana termasuk teknologi modern, dan dengan teknologi itu pula dapat dijadikan sarana pembentukan akhlak.
  5. Pendidikan Islam harus bergerak cepat, karena globalisasi dengan kemajuan ipteknya tidak mempedulikan kesiapan kita untuk menyambutnya, kita hanya punya satu pilihan segera berbenah dan merapatkan barisan dengan segala pendukung pendidikan. Yang jelas dari beberapa upaya yang dibicarakan, yang terpenting adalah manajemen pendidikan Islam itu sendiri. Manajemen pendidikan Islam dalam penyusunan langkah-langkah juga harus memberi ruang seluas-luasnya pada mereka yang amanah, ikhlas, dan mampu beradaptasi dengan tantangan dunia pendidikan di era globalisasi. Dan tidak memberi ruang bagi generasi yang korup, karena korupsi ini pulalah yang merupakan penyakit masyarakat yang mengakibatkan lemahnya beberapa lembaga pendidikan yang ada, walaupun tidak kesemuanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar